Home / Uncategorized

Jumat, 18 September 2026 - 20:05 WIB

Menelusuri Jejak Besuki, Kota Tua di Jatim yang Pernah Menjadi Pusat Karesidenan

Situbondo – Buletintv9.com ||

Sejarah Besuki di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, menyimpan perjalanan panjang yang tidak terlepas dari perkembangan pemerintahan, perdagangan, perlawanan terhadap kolonialisme, serta pengaruh budaya Madura di kawasan Tapal Kuda.

Ketua Umum Fast Respon, Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo SH MH, menyoroti kembali sejarah Besuki yang menurutnya memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Jawa Timur. Ia menyebut Besuki pada masa lalu bukan sekadar wilayah permukiman, melainkan pernah menjadi pusat pemerintahan kawasan yang luas.

“Besuki merupakan kota tua yang memiliki sejarah panjang. Setelah Yogyakarta dan Surakarta, Besuki memiliki perjalanan sejarah kekuasaan tersendiri yang perlu terus dikaji dan dilestarikan,” ujar Agus dalam keterangannya.

Menurut Agus, jejak sejarah Besuki antara lain dapat ditelusuri melalui literatur kolonial Belanda yang dikenal dengan sebutan Historisch van Besoeki atau literatur sejarah mengenai Besuki. Ia mendorong agar sumber-sumber tersebut kembali dipelajari secara lebih serius untuk mengetahui posisi Besuki dalam sejarah kawasan Jawa Timur.

Ki Pate Alos dan Awal Pembukaan Besuki

Salah satu tokoh yang disebut dalam riwayat sejarah lokal Besuki adalah Raden Bagus Kasim Wirodipuro atau yang dikenal sebagai Ki Pate Alos (Patih Alos).

Dalam tradisi sejarah masyarakat setempat, Ki Pate Alos disebut berasal dari Pamekasan, Madura, dan dikaitkan dengan pembukaan wilayah Besuki pada masa awal perkembangannya.

Besuki pada masa itu dalam sejumlah kisah lokal digambarkan sebagai kawasan hutan yang kemudian dibuka menjadi permukiman. Ki Pate Alos disebut sebagai tokoh yang berperan dalam membuka kawasan tersebut dan selanjutnya menjadi demang atau penguasa awal Besuki.

Kisah mengenai hutan yang dianggap angker dan berkaitan dengan berbagai mitos masyarakat merupakan bagian dari tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, kisah tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari warisan budaya dan sejarah lokal yang masih memerlukan kajian sumber primer maupun penelitian sejarah lebih lanjut.

Nama Ki Pate Alos hingga kini masih melekat dalam memori sejarah masyarakat Besuki. Salah satu lokasi yang dikaitkan dengan keberadaan tokoh tersebut kemudian dikenal sebagai Pendopo Pate Alos yang berada di kawasan selatan Alun-Alun Besuki.

Besuki dan Karesidenan pada Masa Kolonial

Peran Besuki semakin menonjol pada masa pemerintahan kolonial Belanda ketika wilayah tersebut menjadi pusat Karesidenan Besuki.

Kawasan Karesidenan Besuki pada periode tertentu mencakup wilayah yang kini menjadi Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi. Posisi tersebut menjadikan Besuki sebagai salah satu pusat administrasi penting di kawasan timur Jawa pada masa kolonial.

Besuki kemudian berkembang sebagai salah satu simpul pemerintahan dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Agus juga menyinggung sejarah pemerintahan Besuki yang dikaitkan dengan pengangkatan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Prawiroadiningrat pada 15 Agustus 1818. Tanggal tersebut dalam tradisi sejarah lokal kemudian dikaitkan dengan peringatan hari jadi pemerintahan Kabupaten Situbondo.

Namun, penetapan tanggal dan periodisasi sejarah pemerintahan Besuki tetap penting dikaji berdasarkan arsip kolonial, dokumen pemerintahan, serta sumber sejarah lokal agar tidak terjadi pencampuran antara sejarah administratif Besuki pada masa berbeda.

Basis Ulama dan Perlawanan terhadap Kolonial

Menurut Agus, literatur sejarah kolonial juga menggambarkan Besuki sebagai salah satu wilayah yang memiliki dinamika perlawanan terhadap pemerintahan Belanda.

Ia menyebut kuatnya pengaruh ulama dan masyarakat lokal menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan sejarah Besuki. Dalam keterangannya, Agus juga menyinggung keberadaan kekuatan armada dan tokoh-tokoh yang disebut dalam literatur sejarah lokal, termasuk nama Pate Unus.

Sejumlah kisah mengenai perlawanan masyarakat Besuki terhadap kolonialisme perlu ditelusuri lebih jauh melalui arsip Belanda dan sumber lokal untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai aktor, periode, serta bentuk perlawanan yang terjadi.

Jejak Budaya Madura Masih Terlihat

Selain sejarah politik dan pemerintahan, Besuki memiliki identitas budaya yang kuat.

Letaknya di kawasan Tapal Kuda membuat Besuki memiliki hubungan historis dan kultural yang erat dengan masyarakat Madura. Pengaruh tersebut antara lain terlihat dari bahasa dan dialek Madura yang berkembang di tengah masyarakat.

Jejak budaya tersebut menjadi bagian dari identitas masyarakat Besuki dan kawasan sekitarnya, sekaligus menunjukkan adanya mobilitas penduduk serta hubungan sosial-ekonomi antara Madura dan wilayah pesisir timur Jawa.

Peninggalan Sejarah Menjadi Aset Budaya

Sejumlah peninggalan dan struktur kawasan lama di Besuki juga menjadi bagian penting dari warisan sejarah daerah.

Di sekitar kawasan Besuki masih dapat ditemukan berbagai elemen kota lama, antara lain kawasan alun-alun, masjid tua di sisi barat alun-alun, serta pendopo dan bangunan yang berkaitan dengan pemerintahan pada masa sebelumnya.

Menurut Agus, keberadaan peninggalan tersebut seharusnya menjadi pintu masuk untuk melakukan penelitian sejarah secara lebih mendalam sekaligus memperkuat upaya pelestarian.

“Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal Besuki sebagai sebuah kecamatan. Di balik status administratifnya sekarang, ada sejarah panjang yang harus digali dan dilestarikan,” katanya.

Agus berharap pemerintah daerah, akademisi, sejarawan, budayawan, serta masyarakat dapat bersama-sama melakukan inventarisasi dan penelitian terhadap arsip, bangunan bersejarah, manuskrip, maupun tradisi lisan yang berkaitan dengan sejarah Besuki.

Dengan penelitian yang berbasis sumber primer dan kajian akademis, sejarah Besuki diharapkan dapat ditempatkan secara lebih proporsional dalam narasi sejarah Jawa Timur dan Indonesia.

Jejak Besuki, dengan demikian, bukan hanya cerita tentang masa lalu. Ia merupakan bagian dari perjalanan terbentuknya pemerintahan, masyarakat, dan kebudayaan di kawasan timur Jawa yang masih menyimpan banyak pertanyaan sejarah untuk ditelusuri.|| **

Berita ini 3 kali dibaca
Ditulis oleh Pimred

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Share :

Baca Juga

Uncategorized

Pamit Penuh Hormat Kapolres Pelalawan Silaturahmi ke Sultan Pelalawan Ke-10 di Pekanbaru 

Uncategorized

Tinjau Lokasi Karhutla di Tumbang Nusa, Kapolda Kalteng Apresiasi Kerja Keras Satgas

Uncategorized

Jembatan Gantung Bosar Galugur Capai 81,6 Persen, Akses Warga Segera Terhubung

Uncategorized

Ditsamapta Polda Sumut tingkatkan patroli malam antisipasi Gangguan Kamtibmas 

Uncategorized

Komisi III DPR RI Kunjungi Polda Bali, Kapolda Tegaskan Komitmen Penegakan Hukum Profesional dan Berintegritas

Uncategorized

Khidmat dan Haru Farewell Parade Kenal Pamid Kapolres Pelalawan Dari AKBP John Louis Letedara ke AKBP Ahmad Nur Ari S.SOS.S.I.K.,M.H

Uncategorized

Kapolda Kalteng Hadiri Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla Bersama Menteri Kehutanan dan Ka BNPB di Pulang Pisau

Uncategorized

Luar Biasa, Polda Kalteng Raih 4 Penghargaan Kompolnas Award 2026